Dibalik Adzan Pitu dan Sunan Kalijaga

0
145
views
Dibalik Adzan Pitu dan Sunan Kalijaga

Saat perjalanan kami ke Cirebon kebetulan bertepatan dengan hari Jum’at, setelah mengunjungi Keraton Kasepuhan kami di informasikan perihal Adzan Pitu (tujuh orang muazin), Adzan khusus hari Jum’at  di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Sempat kami bertanya-tanya apa istimewanya ya..? dan agar tidak penasaran, bergegaslah kami menuju Masjid untuk mengikuti Sholat Jum’at.

Setibanya di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon, rupanya telah banyak dipenuhi oleh jama’ah dari berbagai daerah, pedagang-pedagangpun ramai menjejali area parkiran Masjid, yang memang tidak seperti hari-hari biasanya. Masjid yang sangat kental dengan arsitek Jawa Kuno dan bangunannya pun terlihat bangunan tua yang masih kokoh berdiri, seakan memberikan isyarat bahwa Masjid tersebut telah menjadi saksi cerita-cerita penyebaran Islam di Pulau Jawa.

Menurut cerita yang kami dapat, tradisi Adzan Pitu terjadi di jaman Sunan Kalijaga, kala itu Sunan Kali Jaga memerintahkan 7 (tujuh) orang Muazdin untuk mengumandangkan Adzan secara bersamaan, tujuan Sang Sunan adalah untuk mengusir Wabah Penyakit yang menyerang Masjid dan Jama’ah Masjid, wabah yang menyebabkan kematian tersebut dikenal dengan nama Satria Menjangan Wulung layaknya Leak (dari Bali). Alhasil atas izin Allah SWT wabah penyakit Menjangan Wulung pergi dan terpental, bersamaan dengan meledaknya kubah masjid yang terpental hingga ke Kubah Masjid Agung Banten, dan Menjangan Wulungpun terpental sampai ke Indramayu menjelma menjadi labu hitam, makanya adanya larangan memakan labu hitam.

Selain Adzan Pitu, keistimewaan lainnya adalah masih dilestarikannya khotbah jum’at dengan Bahasa Arab, walaupun sebagian besar tidak begitu mengerti Bahasa Arab, namun para jama’ah tetap mendengarkan dengan khidmat serta khusyuk.